Dari Santunan Rumah ke Rumah, Hapizin Bangun Gerakan Pendidikan untuk Anak Yatim di Pasangkayu
PASANGKAYU - Perjalanan panjang membangun kepedulian terhadap anak yatim, piatu dan anak-anak terlantar menjadi bagian penting dari kiprah Hapizin, Ketua Yayasan Abulyatama Yatim Village di Kabupaten Pasangkayu.
Kisah tersebut disampaikan Hapizin saat diwawancarai oleh Anggota Ikatan Jurnalis Sulawesi Barat (IJS) DPW Pasangkayu, Maul, dalam rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ahad (13/9/2026).
Dalam wawancara tersebut, Hapizin menceritakan bagaimana gerakan sosial yang kini berkembang menjadi Yayasan Abulyatama Yatim Village berawal dari langkah sederhana yang dilakukan dari rumah ke rumah.
Ia menuturkan, perjuangan tersebut mulai dirintis di Pasangkayu pada 11 Maret 2021. Ketika itu, dirinya bersama sejumlah rekan mulai memberikan santunan kepada anak-anak yatim dengan kemampuan yang ada.
"Awalnya kami melakukan gerakan sosial berupa santunan dari rumah ke rumah, terutama kepada anak yatim. Setelah beberapa bulan, kami mulai mengumpulkan donasi dan mencari pondok-pondok yang memiliki anak yatim untuk kami santuni," tutur Hapizin.
Santunan tersebut diberikan secara rutin dalam bentuk kebutuhan pokok, terutama beras. Kegiatan itu terus berjalan kurang lebih satu setengah tahun.
Namun, perjalanan dari rumah ke rumah tersebut justru membuka mata Hapizin terhadap persoalan yang lebih besar. Ia menemukan banyak anak yatim yang tidak hanya membutuhkan bantuan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membutuhkan akses pendidikan agama dan pengasuhan yang layak.
Sejumlah keluarga yang selama ini mengasuh anak yatim, baik nenek maupun ibu mereka, menyampaikan harapan agar anak-anak tersebut dapat belajar di pondok pesantren. Kendalanya, mereka tidak memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk membiayai pendidikan.
"Dari perjalanan santunan ke rumah-rumah, kami mendapatkan saran dari orang-orang yang menanggung anak yatim, baik nenek maupun ibu mereka. Mereka ingin sekali anak-anaknya mondok dan mendapatkan pendidikan agama, tetapi terkendala biaya," ungkapnya.
Masukan tersebut kemudian menjadi titik penting dalam perjalanan Hapizin. Dari yang semula hanya memberikan santunan, muncul gagasan untuk membangun sebuah wadah yang mampu memberikan pengasuhan sekaligus pendidikan kepada anak-anak yang membutuhkan.
Menurut Hapizin, kepercayaan masyarakat yang diberikan kepadanya menjadi sebuah amanah yang tidak ingin ia sia-siakan.
"Karena amanah itu sudah dibebankan kepada kami selaku Abulyatama atau bapak yatim, maka menjadi aspirasi kami bagaimana membangun sebuah pondok yang bisa mengasuh dan mendidik mereka, terutama membentuk akhlak dan memberikan pendidikan agama," katanya.
Bagi Hapizin, perjuangan tersebut bukan semata-mata tentang membangun sebuah lembaga. Lebih dari itu, ia ingin menghadirkan ruang bagi anak-anak yatim, piatu dan terlantar agar mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan dan masa depan yang lebih baik.
Ia menyadari bahwa cita-cita tersebut tidak mudah diwujudkan. Apalagi, gerakan sosial dan pendidikan membutuhkan dukungan yang berkelanjutan.
Karena itu, Hapizin berharap Yayasan Abulyatama Yatim Village dapat membangun sinergi dengan pemerintah, masyarakat, para dermawan dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak-anak.
"Kami tidak mampu berjalan sendiri tanpa sinergi dari orang-orang yang punya kemampuan di luar sana. Karena itu, harapan kami ke depan bisa bergandengan tangan dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait, termasuk mereka yang Allah berikan rezeki dan kemampuan, untuk bersama-sama mendukung pendidikan anak-anak ini," ujarnya.
Menurutnya, pendidikan merupakan investasi penting bagi masa depan anak-anak yang selama ini membutuhkan perhatian. Ia meyakini, pendidikan agama yang dibarengi dengan pembentukan akhlak dapat menjadi bekal bagi mereka dalam menjalani kehidupan.
"Dari pendidikan yang baik, insyaallah mereka mendapatkan masa depan yang baik dan layak. Mereka bisa berguna bagi masyarakat, agama, nusa dan bangsa," pungkas Hapizin.
Dari sebuah gerakan kecil berupa santunan dari rumah ke rumah, Hapizin kini terus berupaya mengembangkan kepedulian tersebut menjadi gerakan sosial dan pendidikan yang lebih luas.
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi ruang untuk kembali mengingat nilai keteladanan, kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama. Bagi Hapizin, kepedulian terhadap anak yatim bukan hanya dilakukan melalui santunan, tetapi juga dengan membuka jalan bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan, pengasuhan dan masa depan yang lebih baik.
Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Ketua Pembina Yayasan Abulyatama Yatim Village, A. Haspian H., serta perwakilan IJS DPW Pasangkayu, Maul dari Divisi Pengembangan Organisasi dan Perlengkapan, yang melakukan wawancara dengan Hapizin mengenai perjalanan dan perjuangan yayasan tersebut.

